Manusia adalah makhluk yang sempurna, yang dibekali oleh Allah berbagai kelebihan dibanding ciptaan yang lain. kelebihan tersebut seperti, kelebihan dalam berfikir, kelebihan mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan bentuk fisik. dan yang jelas kelebihan manusia yang lain yaitu manusia dikarunai oleh Allah sebuah keyakinan terhadap segala sesuatu yang bersifat benar. berbeda dengan hewan, ya mungkin kelebihan daripada hewan adalah mempunyai instink. dan kebanyakan hewan menggunakan instinknya hanya untuk menerkam mangsanya.
bahkan menurut berbagai sumber manusia dengan malaikat derajatnya lebih tinggi manusia. hal ini dibuktikan pada manusia pertama yaitu Nabi Adam as. ketika Nabi Adam di turunkan kebumi, Allah memberikan pertayaan kepada para Malaikat tentang nama-nama benda. akan tetapi, para Malaikat tidak bisa menjawab pertanyaan dari Allah. dan ketika Allah memberikan pertanyaan kepada Adam, Adam pun bisa menjawab pertanyaan itu, tentang nama-nama benda. sehingga pada saat itu Allah menyuruh para Malaikat untuk tunduk kepada Adam. inilah bukti bahwa mulianya manusia dimata Allah. selain bukti itu, yang menggambarkan bahwa manusia adalah makhluk yang mulia dimata Allah adalah setiap manusia memiliki Iman, tauhid, akidah, akhlak, nafsu dan syahwat. Iman adalah raja dari beberapa hal itu. karena memang iman adalah pusat inti terbentuknya lima hal itu. bicara tentang iman jelas, bahwa tidak ada manusia yang memiliki Iman yang sempurna. yang selalu konsisten naik terus. mustahil jika ada. seorang guru, dosen, presiden beserta crewnya, para cendekiawan bahkan seorang ustad mustahil jika memiliki iman yang kuat. iman setiap manusia pasti naik turun. hal ini terjadi karena banyaknya pengaruh dari luar, godaan-godaan dari luar, ataupun datangnya cobaan pada setiap manusia itu sendiri. hal lain selain iman yaitu, emosi. emosi setiap manusia akan naik turun sesuai dengan keadaan yang dialaminya. kesabaran juga mengalami naik turun. mental, juga sama halnya mengalami naik turun. akidah, akhlak, tauhid bahkan cinta, rasa sayang itupun juga akan mengalami naik turun. sehingga saya sebut manusia sama dengan fluktuasi, atau "the man of fluctuation", yaitu segala sesuatu yang terjadi pada
diri setiap manusia dimana terjadi perubahan naik turun pada diri
manusia itu, baik itu bersifat maknawi atau indrawi dan berdasarkan
situasi dan kondisi yang dialaminya pada saat itu.
Always Dinamis
Selasa, 25 Februari 2014
Rabu, 12 Februari 2014
hidup materi yang menyerang para pejabat
pada zaman sekarang, dimana zaman era modern banyak orang yang lebih mementingkan kehidupan atau keuntungan pribadi dari pada mementingkan kepentingan orang lain. yang hasilnya banyak madhorot yang didapat baik itu dari pihak dalam maupun pihak luar.
sebagai contoh, yang dekat saja. dimana zaman sekarang banyak kasus korupsi yang melanda negara Indonesia. kalau bicara tentang sebab mengapa para pejabat korupsi, jelas bukanlah pendidikan yang menjadi faktor utama. kita lihat saja, para pejabat yang telah diplot menjadi koruptor, apa gelarnya, apa saja pengalaman yag telah didapat dikursi pengurusan, itu semua berbau pendidikan. akan tetapi pendidikan yang bagaimana yang perlu dipertanyakan. yaitu pendidikan yang kaitannya dengan akademik saja, dalam hal ini banyak pemikir menyebut dengan sebutan pendidikan formal. yang harus saya tegaskan, kenapa negara kita ini dalam urusan pendidikan terutama pada pendidikan yang manifestasinya disekolah, padahal kita tahu bahwa sekolah merupakan latar terciptanya pendidikan yang paling utama, yang selalu mengedepankan prestasi akademik saja, mengedepankan ilmu formal saja. memang akademik sangat diperlukan dalam ranah kehidupan. tapi apakah cukup, apakah memang yang paling dikedepankan. saya rasa tidak, karena kembali pada kasus banyaknya pejabat yang korupsi tadi. para pejabat yang sudah menuntut ilmu setinggi-tingginya, sudah mendapat gelar Doctor, Professor, bahkan sebagian ada yang sekolah diluar negeri, dengan tujuan hanya mencari gelar terbaik, yang lebih dari pada yang lainnya. tapi finishing dari tingginya ataupun luasnya ilmu yang sudah didapat itu, tidak digunakan atau dimanfaatkan dengan baik. dengan kata lain banyak para pejabat yang sebagai orang berpendidikan melakukan hal bodoh yaitu korupsi.
mencoreng nama baik negara dan meruntuhkan nasib masyarakat luas. inilah bukti bagaimana kesalahan pendidikan di negara ini, yang hanya menekankan pada dimensi akademik saja, pada dimensi intelektual saja. yang akhirnya banyak orang berpendidikan atau berintelektual berprinsip, bahwa materilah yang dicari, materi yang menjadi tujuan akhir dari hasil jeripayah pendidikan yang selama ini di arungi. dan akhirnya juga berdampak pada perilaku individualistik, atau perilaku non sosialistik. yang selanjutnya pada masalah keadilan, jiwa sosial saja tidak ada, apa mungkin keadilan juga ada. bagi banyak orang yang berpikir sangatlah mustahil.
negara atau pemerintah berdiri berarti harus sangat, sangat dan sangat bertanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat luas dan harus siap menghidupi, melindungi dan menata masyarakat luas.
maka dari itu pendidikan dinegara ini tidak hanya ditekankan pada akademik saja, tapi bagaimana caranya negara ini bisa membangun pendidikan yang berbasis emotional yang berkaitan dengan jiwa, perasaan, kepedulian, tanggung jawab, kedisiplinan dll yang ada kaintannya dengan emotional.
sebagai contoh, yang dekat saja. dimana zaman sekarang banyak kasus korupsi yang melanda negara Indonesia. kalau bicara tentang sebab mengapa para pejabat korupsi, jelas bukanlah pendidikan yang menjadi faktor utama. kita lihat saja, para pejabat yang telah diplot menjadi koruptor, apa gelarnya, apa saja pengalaman yag telah didapat dikursi pengurusan, itu semua berbau pendidikan. akan tetapi pendidikan yang bagaimana yang perlu dipertanyakan. yaitu pendidikan yang kaitannya dengan akademik saja, dalam hal ini banyak pemikir menyebut dengan sebutan pendidikan formal. yang harus saya tegaskan, kenapa negara kita ini dalam urusan pendidikan terutama pada pendidikan yang manifestasinya disekolah, padahal kita tahu bahwa sekolah merupakan latar terciptanya pendidikan yang paling utama, yang selalu mengedepankan prestasi akademik saja, mengedepankan ilmu formal saja. memang akademik sangat diperlukan dalam ranah kehidupan. tapi apakah cukup, apakah memang yang paling dikedepankan. saya rasa tidak, karena kembali pada kasus banyaknya pejabat yang korupsi tadi. para pejabat yang sudah menuntut ilmu setinggi-tingginya, sudah mendapat gelar Doctor, Professor, bahkan sebagian ada yang sekolah diluar negeri, dengan tujuan hanya mencari gelar terbaik, yang lebih dari pada yang lainnya. tapi finishing dari tingginya ataupun luasnya ilmu yang sudah didapat itu, tidak digunakan atau dimanfaatkan dengan baik. dengan kata lain banyak para pejabat yang sebagai orang berpendidikan melakukan hal bodoh yaitu korupsi.
mencoreng nama baik negara dan meruntuhkan nasib masyarakat luas. inilah bukti bagaimana kesalahan pendidikan di negara ini, yang hanya menekankan pada dimensi akademik saja, pada dimensi intelektual saja. yang akhirnya banyak orang berpendidikan atau berintelektual berprinsip, bahwa materilah yang dicari, materi yang menjadi tujuan akhir dari hasil jeripayah pendidikan yang selama ini di arungi. dan akhirnya juga berdampak pada perilaku individualistik, atau perilaku non sosialistik. yang selanjutnya pada masalah keadilan, jiwa sosial saja tidak ada, apa mungkin keadilan juga ada. bagi banyak orang yang berpikir sangatlah mustahil.
negara atau pemerintah berdiri berarti harus sangat, sangat dan sangat bertanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat luas dan harus siap menghidupi, melindungi dan menata masyarakat luas.
maka dari itu pendidikan dinegara ini tidak hanya ditekankan pada akademik saja, tapi bagaimana caranya negara ini bisa membangun pendidikan yang berbasis emotional yang berkaitan dengan jiwa, perasaan, kepedulian, tanggung jawab, kedisiplinan dll yang ada kaintannya dengan emotional.
Langganan:
Postingan (Atom)

